Pemuda Asal Medan Bakar Diri di Santeong
Marah Adik Perempuannya Tolak Ikut ke Medan
SIBOLGA-METRO
Seorang pemuda asal Medan, Erwin Syahputra (28), membakar dirinya sendiri dengan bensin, di Jalan Santeong Kelurahan Pancuran Gerobak Kecamatan Sibolga Kota, Jumat (20/6) sekira pukul 16.00 WIB. Penyebabnya, karena adik perempuannya, sebut saja namanya Rina (20-an ), menolak ikut kembali bersamanya ke Medan.
Keterangan diperoleh METRO dari warga serta pantauan langsung di RS FL Tobing Sibolga, kemarin sore menyebutkan, selama ini Erwin tinggal bersama ibu dan adiknya Rona, serta adik bungsunya, di Jalan Tanjung Permai IV Medan Sunggal, Kota Medan. Ayahnya sudah meninggal. Erwin menghidupi keluarga dengan menairk becak mesin peninggalan almarhum ayahnya.
Namun selama mereka tinggal bersama, Erwin kerab memukul ibu dan adik-adiknya. Ia juga menjodoh-jodohkan adiknya Rina dengan seorang preman di Medan. Kondisi ini membuat Rina tidak tahan, dan beberapa bulan lalu melarikan diri ke Kota Sibolga, ke rumah abangnya yang bekerja sebagai guru di Tapteng.
Sekira dua bulan kemudian, Rina memperoleh pekerjaan sebagai penjaga toko Ponsel di Jalan Suprapto Sibolga. Setelah bekerja, Rina tinggal di rumah peninggalan kakeknya di Jalan Santeong, bersama paman dan adik-adik ayahnya.
Mengetahui adiknya melarikan diri ke Sibolga, Erwin pun beberapa kali menyusul ke Sibolga, mendesak adiknya agar kembali tinggal bersamanya di Medan. Namun adiknya menolak. Untuk memaksa adiknya, Erwin bahkan pernah mengancam bunuh diri dengan meminum cairan pembunuh serangga. Untung saat itu, paman-pamannya berhasil mencegah niatnya.
Jumat sore kemarin, sekira pukul 15.00 WIB, Erwin kembali datang ke Sibolga, naik sepedamotor dari Medan. Awalnya, dia mendatangi rumah abangnya di Tapteng. Namun karena rumah abangnya terkunci, dia pun mendatangi tempat kerja adiknya Rina, di Jalan Suprapto.
Di toko ponsel itu, Erwin marah-marah sama adiknya, memaksanya ikut pulang bersamanya ke Medan. Karena adiknya menolak, Erwin mengamuk dan mengancam akan membakar toko ponsel tempat adiknya bekerja.
Takut tokonya dibakar, pemilik toko ponsel tempatnya bekerja kontan memecat Rina, dan membayarkan gajinya selama sebulan, dan memintanya tidak usah lagi datang bekerja.
Karena takut sekaligus marah, Rina akhirnya lari keluar dari toko, dan bersembunyi di rumah temannya. Ia tak mau kembali ke Jalan Santeong, karena takut bakal disusul abangnya.
Mengira adiknya lari ke Santeong, Erwin menyusul ke sana. Entah dari mana, ia membawa bensin dalam plastik. Di hadapan paman-pamannya yang tinggal di rumah itu, ia meminta agar adiknya disuruh keluar agar pulang bersamanya ke Medan.
Karena tidak dikasih masuk ke rumah, Erwin menyiramkan bensin ke tubuhnya, dan mengambil korek, serta mengancam akan membakar diri jika permintaannya tidak dipenuhi.
Saat menjentik-jentikkan korek, tanpa diduganya api menyambar ke tubuhnya yang sudah disiram bensin. Kontan, tubuhnya pun berkobar dilalap api. Erwin menjerit-jerit minta tolong, sembari berlari ke arah bawah (rumah pamannya berada di ketinggian). Namun tak lama, masih dengan tubuh berkobar dilalap api, ia kembali berlari ke arah rumah pamannya ingin masuk ke rumah.
Karena saat itu di depan rumah ada beberapa sepedamotor yang diparkir, paman-pamannya menghalangi dirinya masuk dan menyuruhnya menjauh. Selanjutnya, dua orang sepupunya yang sedang menggoreng kerupuk, mengambil selang air dan menyemprotkannya ke tubuh Erwin. Api pun padam, dan tubuh Erwin terjatuh dalam kondisi hitam terbakar, tapi masih hidup.
Tak berapa lama, petugas Polresta Sibolga yang mendapat laporan dari masyarakat, dating ke lokasi. Karena tidak ada yang berani menyentuhnya, Erwin bangkit sendiri dan berjalan ke atas mobil patroli polisi, untuk dibawa ke RSU FL Tobing Sibolga. Tiba di RSU, Erwin yang sudah gosong dengan kulit terkelupas, juga turun sendiri dari mobil patroli dan berjalan ke ruang IGD.
Selanjutnya, ia mendapat perawatan. Rambutnya tidak terbakar, karena saat kejadian ia memakai topi tebal di kepalanya.
Menurut seorang famili korban yang minta namanya tidak ditulis, korban memang kurang disukai sanak saudaranya, karena tingkahnya agak menyimpang. “Tengok saja, tidak ada familinya yang menunggui. Bahkan kepada polisi pun, familinya mengatakan, tidak mengenal korban. Hanya abang dan adiknya yang peduli,” katanya.
Pantauan METRo di RSU FL Tobing, adik korban, Rina dan abang sulungnya, tampak sibuk mengurus perobatan korban. Rina adiknya tampak tak terlalu senang. “Pusing aku. Abang ajalah yang ngurus,” katanya kepada abangnya, dengan wajah tanpa senyum.
Pihak Polresta Sibolga yang dikonfirmasi METRO seputar kejadian ini, membenarkan adanya kejadian itu. (mag-02)