Afwannst’s Weblog

Masukan dari Juni 2008

Listrik Belum Masuk Warga Sait Nihuta Andalkan Matahari dan Geset

29 Juni 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Listrik Belum Masuk

Warga S Kalangan II Andalkan Matahari & Genset                    

TUKKA-METRO

Sekitar 70 KK dari 198 KK warga Desa S Kalangan II Kecamatan Tukka Tapteng, sejak 2 tahun terakhir mengandalkan listrik dari tenaga surya (matahari) serta genset. Pasalnya, sampai saat ini, arus listrik belum masuk ke desa mereka. Sementara kabel listrik yang sempat dipasang, hilang diambil oknum-oknum berseragam petugas PLN.

Pantauan METRO, Sabtu (28/6), puluhan atap rumah penduduk di desa itu dipasangi sejenis alat penangkap tenaga surya (solar street light system-SSLS), yang terhubung dengan semacam alat penerima di dalam rumah. Alat penerima itu nantinya akan mengubah tenaga surya itu menjadi alat pembangkit listrik.  

“Pemprovsu melalui Dinas Pertambangan dan Energi Sumut, tahun 2006 lalu memberikan 70 unit pembangkit listrik tenaga surya ini ke desa kami. Harga PLTS, menurut keterangan petugas Distamben kepada warga, mencapai Rp6 juta per unit,” jelas Kepala Desa S Kalangan II Dorlas Simatupang (43), didampingi Kepling Kalangan II, Selamat Sitompul  (47), kepada METRO di desa mereka, kemarin.

PLTS itu bisa menghidupkan 3 lampu dengan total kapasitas 90 watt, untuk jangka waktu 4 jam. “Hanya saja, ketiga lampu itu tak bisa hidup sekaligus, dengan jangka waktu yang lama, dan hanya tahan satu lampu, itupun hanya selama 4 jam” jelasnya.

Untuk menghidupkan televisi, tenaga PLTS ini tidak mencukupi. Karena itu, warga terpaksa membeli genset untuk keperluan rumah. Untuk menghemat biaya, sejumlah warga urunan membeli genset, dan membagi daya listriknya sama rata ke setiap yang urunan. Biaya pembelian BBM juga dibagi rata.

“Yah, beginilah desa kami Dik. Meski kami sudah enam generasi di desa ini, soal listrik kami belum merdeka. Beberapa tahun lalu, pihak PLN sudah sempat akan memasang listrik sampai ke desa ini. Tiang-tiang sudah dipasang. Kabel dan trafo juga sudah dipasang. Namun belum lagi dialiri listrik, kabel dan trafo sudah hilang diambil oknum-oknum, yang kami lihat berseragam petugas PLN. Yang jelas, kami sangat berharap pihak PLN segera memasang listrik ke desa kami,” tambah tokoh masyarakat desa, Raja Johan Sitompul, kepada METRO.

Ironisnya, kata dia, Desa S Kalangan II Tapteng ini tahun lalu menjadi Juara III Desa Percontohan se-Sumut. Tetapi perhatian pihak Pemkab dan PLN ke desa mereka tidak memuaskan. (mag-02)

Kategori: Berita Tapteng

Harta Karun Hutan Batang Toru

29 Juni 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Hutan Batang Toru, Harta Karun Tapanuli

* Simpan 900 Ekor Orang Utan, dan Ribuan Jenis Anggrek

TAPTENG-METRO

Kawasan Hutan Batang Toru, yang terdiri dari blok Barat dan blok Timur (Sarulla), yang saat ini diperkirakan tinggal tersisa 136.284 hektare, disebut-sebut sebagai harta karun  Tapanuli. Pasalnya, Hutan Batang Toru ternyata memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi dan cukup luar biasa.

“Hutan Batang Toru adalah habitat terakhir untuk populasi orangutan (mawas, jut botar), yang jauh terpisah dari orangutan lain di Sumatera Utara dan Aceh,” kata David Ilham, staf SOCY (Sumatera Orangutan Conservation Program), didampingi Emma Wells, Durell Wildlife Conservation, menjawab wartawan di Tukka Tapteng, Sabtu (28/6). 

Populasi orangutan saat ini, kata David Ilham, diperkirakan mencapai 600 ekor di blok Batang Toru Barat, dan sekitar 300-400 ekor di blok Batang Toru Timur. “Itu berarti, sekitar 10-15 persen dari seluruh populasi orangutan Sumatera yang saat ini diperkirakan hanya 6.600 ekor (yang tersisa di dunia ini),” jelasnya.

Selain orangutan, di kawasan Hutan Batang Toru masih bisa dijumpai satwa langka lainnya seperti tapir (sipan), harimau Sumatera, dan beragam jenis burung khas Sumatera.

“Dari segi flora, Hutan Batang Toru juga sangat kaya dan punya beragam jenis yang khas dan unik di Pulau Sumatera. Seperti bunga Rafflesia dan bermacam anggrek yang luar biasa. Semuanya ini merupakan harta karun dan aset luar biasa bagi Indonesia, Sumatera Utara, dan Tapanuli khususnya,” kata dia.

Ilham melanjutkan, kawasan Hutan Batang Toru yang secara administratif terletak di tiga kabupaten, yakni Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan, saat ini secara umum mengalami perusakan yang signifikan, khususnya di daerah Tapteng. Akibatnya, kelestarian orangutan terancam. Untuk itu, ia mengharapkan peran serta masyarakat dan Pemkab masing-masing daerah, untuk bersama-sama menjaga ekosistem di kawasan hutan lindung tersebut.

 

Haluang dan Kampret Terancam

Emma Wells (34), staf Durrell Wildlife Conservation, menjawab wartawan lewat penerjemahnya David Ilham, mengatakan, tujuan dirinya datang ke kawasan Hutan Batang Toru adalah untuk mengobservasi orangutan di kawasan itu, serta flora dan fauna. “Tugas kami di Durrell adalah memelihara kelestarian alam dan orangutan yang ada di Pulau Sumatera umumnya dan daerah Tapteng, Taput dan Batangtoru khususnya,” katanya.

Dikatakannya, dalam memelihara kelestarian orangutan, mereka mempunyai klinik orangutan di Jambi, dan karantina orangutan di Sibolangit Sumatera Utara.

Ditanya apa hasil observasinya selama tiga hari di Hutan Batang Toru, Emma menjawab, ia menemukan bahwa warga setempat melakukan sejumlah kegiatan yang mengancam kelestarian ekosistem di kawasan itu.

Contohnya, ia menyaksikan warga menangkap haluang (kelelawar) dan kampret (kelelawar kecil), untuk dijual atau dikonsumsi sendiri. Padahal, kata dia, kegiatan seperti itu merusak ekosistem alam setempat. Bahkan, haluang termasuk binatang langka, yang selayaknya dilindungi.

Emma sendiri mengaku sangat peduli dengan kelestarian orangutan, karena dirinya pecinta binatang, dan bekerja di lembaga yang peduli dengan pelestarian binatang-binatang langka.

David Ilham menambahkan, pihaknya dari SOCY sangat peduli dengan kelestarian alam setempat, serta kelestarian hewan-hewan yang dilindungi. Belum lama ini, pihaknya telah mengembalikan seekor dari Dusun III, Desa Wijk III, Kecamatan Batangtoru, yang diperlihara warga setempat, ke habitatnya di Hutan Batang Toru, setelah sebelumnya dikarantina di Pusat Konservasi Orangutan Sumatera (PKOS) di Sibolangit.

David mengharapkan perhatian Pemkab di sekitar Hutan Batang Toru, untuk turut menjaga kelestarian keanekaragaman hayati di kawasan hutan itu. Apalagi saat ini, Kawasan Hutan Batang Toru termasuk daerah tangkapan air. Di Taput, air dari Hutan Batang Toru mengairi persawahan luas di lembah Sarulla. Hulu dari DAS Sipansipahoras dan Aek raisan berada di Taput. Di Tapteng, kawasan Hutan Batang Toru meruapakan daerah tangkapan air bagio PLTA Sipansipahoras. Kawasan Bukit Anugerah sedang dibangun di tepi hutan Batang Toru yang akan dijadikan kawasan ekowisata Tapteng. Di Tapsel, air dari sungai Batang Toru penting bagi perkebunan luas di daerah hilir. Selain itu, di Tapsel sedang dilakukan eksplorasi oleh tambang emas di Kecamatan Batang Toru. (mea/mag-02)

Kategori: Berita Tapteng

Awal Musim Durian hanya Dapat Jual Satu Truk Ke Pekanbaru

29 Juni 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Awal Musim Durian di Tukka

Satu Truk Durian per Hari Diangkut ke Pekan Baru       

SIBOLGA-METRO

Memasuki awal musim durian di Kecamatan Tukka Kabupaten Tapteng, toke durian di Simpang Huraba, Desa Sait ni Huta Kalangan II, Tukka, mampu mengumpulkan satu truk durian per harinya, untuk diangkut dan dijual ke Pekanbaru- Riau. Modal yang dikeluarkan per truk untuk membeli durian mencapai Rp11 juta.

“Membeli durian sampai satu truk, saya mengeluarkan uang sampai Rp11 juta. Ongkos transport dan gaji, saya keluarkan sekitar Rp2,2 juta. Itu sudah termasuk pungutan di jalan. Dan hasil penjualan satu truk durian di Pekan Baru mencapai Rp14 juta. Berarti, saya masih mendapat untung sekitar Rp800 ribu per hari,” kata S Sitompul, toke durian di Simpang Huraba Desa Sait ni Huta kalangan II, Tukka, kepada METRO, Minggu (29/6).

Ia menjelaskan, jika dihitung per bulan, maka keuntungan bersih yang diperolehnya dari menjual durian mencapai Rp24 juta. Tetapi keuntungan itu tak melulu untuk dirinya sendiri, karena dalam usaha pengangkutan durian ke Pekan Baru, ia memiliki rekan 2-3 orang lagi. “Jadi, ya dibagi tigalah. Begitupun, hasilnya lumayanlah,” jelasnya, sembari tersenyum lebar.

S Sitompul mengaku, pengiriman durian satu truk per hari itu masih awal-awal musim durian. Jika musim durian sudah tiba, ia bisa mengangkut 3 truk durian ke Pekan Baru per hari. “Nah, hitung sendirilah keuntungannya,” katanya sambil tertawa.

Terkait musim durian, pengakuannya, ia bisa berjualan selama 4 bulan berturut-turut, karena musim durian berbeda-beda di beberapa tempat. “Jadi, jika musim durian sudah selesai  di desa yang satu, bisa jadi di desa yang lain baru mulai,” katanya.

Di Simpang Huraba sendiri, agen pengumpul durian bernama Manalu, terkenal dengan nama Manalu Huraba. S Sitompul bekerja sama dengan Manalu, dalam pengumpulan durian sebelum diangkut ke Pekan Baru.

 

Hanya Bunga-bunga Desa

Meski penghasilan dari durian cukup memadai, namun S Sitompul yang mengaku masih termasuk Raja Huta di Sait ni Huta, keuntungannya hanyalah bunga-bunga di desa mereka.

“Saat musim durian tiba, warga jadi berkumpul di simpang  Sait ni Huta ini, mengantar atau membeli durian. Jadi ramelah. Tetapi sebenarnya, penghasilan utama warga di desa ini dari menderes karet,” jelasnya.

Ia mengatakan, umumnya warga setempat memiliki kebun karet. Dan kalaupun tidak punya, umumnya warga pendatang, yang bekerja sebagai buruh deres karet, penghasilan dari buruh deres karet pun bisa mencapai Rp100 ribu per hari. Artinya dalam sebulan, penghasilannya bisa mencapai Rp3 juta. “Lebih besar dari gaji kepala tukang di Sibolga,” katanya bangga.

Keuntungan itu diperoleh menyusul kenaikan harga karet yang saat ini mencapai Rp13 ribu per kg.  “Nah, kalau misalnya nanti harga karet mencapai Rp25 ribu per kg, keuntungan warga akan lebih besar lagi,” katanya. (mag-2)

 

 

 

Kategori: Berita Sibolga

Balita Gizi Buruk Meninggal Dunia

22 Juni 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Eliveri, Balita Gizi Buruk Meninggal Dunia

Kadinkes Berkunjung ke Rumah Duka

SIBOLGA-METRO

Balita pasien gizi buruk, Eliveri Jutafir Halawa (2,5), warga Kelurahan Angin Nauli (bukan Simare-mare seperti diberitakan sebelumnya, red), Kacamatan Sibolga Utara, Kota Sibolga, akhirnya meninggal dunia di RSU FL Tobing, Jumat (20/6)  sekira pukul 17.00 WIB. Korban sempat dirawat 3 hari di RSU.

Ibu korban, Adila br Lase (36), kemarin sore, terus menangis di sisi jenazah korban, yang ditutup kain putih, di rumahnya di Jalan Kenanga Atas. Jenazah putra bungsunya dari 8 bersaudara itu tampak tinggal terbalut tulang. Kulut wajahnya memutih. “Sudah kubawa ke mana-mana anakku itu, ke Puskesmas, ke dokter, ke mana-mana, bahkan akhirnya  ke rumah sakit, tetapi tak ada gunanya,” ratapnya sambil menjambak rambutnya sendiri. Suaminya, Tesekhi Halawa (47), hanya duduk terdiam, dikelilingi anak-anaknya yang lain.

Katerangan yang diperoleh METRO dari Kadis Kesehatan Sibolga Muhammad Yusuf Batubara SKM MM, bersama Kasi Gizi Rima Frida Sianturi, Lurah Angin Nauli Pariaman Siburian dan kader Posyandu di kelurahan Angin Nauli, yang berkunjung ke rumah duka pukul 20.00 WIB, mengatakan, kematian anaknya ini diharapkan menjadi pelajaran bagi masyarakat. “Diimbau kepada ibu-ibu untuk meringankan langkahnya ke Posyandu, sebab Posyandu adalah salah satu alat kontrol kesehatan masyarakat yang paling tepat, terutama masyarakat kelurahan,” ujarnya.

Pada kesempatan itu Kadis Kesehatan, Lurah Angin Nauli, Kepala Puskesmas Pintu Angin menyerahkan bantuan sosial kepada keluarga korban.

Sekedar mengingatkan, Seorang pasien gizi buruk akibat Diare Eliveri Jutafir Halawa (2,5 tahun) anak dari pasangan Tesekhi Halawa (47) yang berpropesi sebagi penarik becak dayung dan istrinya Adila br Lase (36) yang berpropesi sebagai kuli bangunan warga jalan Kenanga atas Kelurahan Simare-mare kecamatan Sibolga Utara saat ini sedang dirawat intensif Mawar anak RSU FL Tobing Sibolga Selasa (17/6) sekira pukul 15.00WIB.

Kategori: Berita Sibolga

Pemuda Asal Medan Bakar Diri Di Santeong

22 Juni 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Pemuda Asal Medan Bakar Diri di Santeong

Marah Adik Perempuannya Tolak Ikut ke Medan

SIBOLGA-METRO

Seorang pemuda asal Medan, Erwin Syahputra (28), membakar dirinya sendiri dengan bensin, di Jalan Santeong Kelurahan Pancuran Gerobak Kecamatan Sibolga Kota, Jumat (20/6) sekira pukul 16.00 WIB. Penyebabnya, karena adik perempuannya, sebut saja namanya Rina (20-an ), menolak ikut kembali bersamanya ke Medan.

Keterangan diperoleh METRO dari warga serta pantauan langsung di RS FL Tobing Sibolga, kemarin sore menyebutkan, selama ini Erwin tinggal bersama ibu dan adiknya Rona, serta adik bungsunya, di Jalan Tanjung Permai IV Medan Sunggal, Kota Medan. Ayahnya sudah meninggal. Erwin menghidupi keluarga dengan menairk becak mesin peninggalan almarhum ayahnya.

Namun selama mereka tinggal bersama, Erwin kerab memukul ibu dan adik-adiknya. Ia juga menjodoh-jodohkan adiknya Rina dengan seorang preman di Medan. Kondisi ini membuat Rina tidak tahan, dan beberapa bulan lalu melarikan diri ke Kota Sibolga, ke rumah abangnya yang bekerja sebagai guru di Tapteng.

Sekira dua bulan kemudian, Rina memperoleh pekerjaan sebagai penjaga toko Ponsel di Jalan Suprapto Sibolga. Setelah bekerja, Rina tinggal di rumah peninggalan kakeknya di Jalan Santeong, bersama paman dan adik-adik ayahnya.

Mengetahui adiknya melarikan diri ke Sibolga, Erwin pun beberapa kali menyusul ke Sibolga, mendesak adiknya agar kembali tinggal bersamanya di Medan. Namun adiknya menolak. Untuk memaksa adiknya, Erwin bahkan pernah mengancam bunuh diri dengan meminum cairan pembunuh serangga. Untung saat itu, paman-pamannya berhasil mencegah niatnya.

Jumat sore kemarin, sekira pukul 15.00 WIB, Erwin kembali datang ke Sibolga, naik sepedamotor dari Medan. Awalnya, dia mendatangi rumah abangnya di Tapteng. Namun  karena rumah abangnya terkunci, dia pun mendatangi tempat kerja adiknya Rina,  di Jalan Suprapto.

Di toko ponsel itu, Erwin marah-marah sama adiknya, memaksanya ikut pulang bersamanya ke Medan. Karena adiknya menolak, Erwin mengamuk dan mengancam akan membakar toko ponsel tempat adiknya bekerja.

Takut tokonya dibakar, pemilik toko ponsel tempatnya bekerja kontan memecat Rina, dan membayarkan gajinya selama sebulan, dan memintanya tidak usah lagi datang bekerja.

Karena takut sekaligus marah, Rina akhirnya lari keluar dari toko, dan bersembunyi di rumah temannya. Ia tak mau kembali ke Jalan Santeong, karena takut bakal disusul abangnya.

Mengira adiknya lari ke Santeong, Erwin menyusul ke sana. Entah dari mana, ia membawa bensin dalam plastik. Di hadapan paman-pamannya yang tinggal di rumah itu, ia meminta agar adiknya disuruh keluar agar pulang bersamanya ke Medan.

Karena tidak dikasih masuk ke rumah, Erwin menyiramkan bensin ke tubuhnya, dan mengambil korek, serta mengancam akan membakar diri jika permintaannya tidak dipenuhi.

Saat menjentik-jentikkan korek, tanpa diduganya api menyambar ke tubuhnya yang sudah disiram bensin. Kontan, tubuhnya  pun berkobar dilalap api. Erwin menjerit-jerit minta tolong, sembari berlari ke arah bawah (rumah pamannya berada di ketinggian). Namun tak lama, masih dengan tubuh berkobar dilalap api, ia kembali berlari ke arah rumah pamannya ingin masuk ke rumah.

Karena saat itu di depan rumah ada beberapa sepedamotor yang diparkir, paman-pamannya menghalangi dirinya masuk dan menyuruhnya menjauh. Selanjutnya, dua orang sepupunya yang sedang menggoreng kerupuk, mengambil selang air dan menyemprotkannya ke tubuh Erwin. Api pun padam, dan tubuh Erwin terjatuh dalam kondisi hitam terbakar, tapi masih hidup.

Tak berapa lama, petugas Polresta Sibolga yang mendapat laporan dari masyarakat, dating ke lokasi. Karena tidak ada yang berani menyentuhnya, Erwin bangkit sendiri dan berjalan ke atas mobil patroli polisi, untuk dibawa ke RSU FL Tobing Sibolga. Tiba di RSU, Erwin yang sudah gosong dengan kulit terkelupas, juga turun sendiri dari mobil patroli dan berjalan ke ruang IGD.

Selanjutnya, ia mendapat perawatan. Rambutnya tidak terbakar, karena saat kejadian ia memakai topi tebal di kepalanya.

Menurut seorang famili korban yang minta namanya tidak ditulis, korban memang kurang disukai sanak saudaranya, karena tingkahnya agak menyimpang. “Tengok saja, tidak ada familinya yang menunggui. Bahkan kepada polisi pun, familinya mengatakan, tidak mengenal korban. Hanya abang dan adiknya yang peduli,” katanya.

Pantauan METRo di RSU FL Tobing, adik korban, Rina dan abang sulungnya, tampak sibuk mengurus perobatan korban. Rina adiknya tampak tak terlalu senang. “Pusing aku. Abang ajalah yang ngurus,” katanya kepada abangnya, dengan wajah tanpa senyum.

Pihak Polresta Sibolga yang dikonfirmasi METRO seputar kejadian ini, membenarkan adanya kejadian itu. (mag-02)

 

Kategori: Berita Sibolga

Rekrutmen dan Penetapan Anggota Panwaslu Serat Kepentingan Politik

19 Juni 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Rekrutmen dan Penetapan Anggota Panwaslu Serat Kepentingan Politik

SIBOLGA-METRO

            Akibat belum optimalnya rekrutmen anggota Panwaslu maupun pelaksana fungsi dan tugas Panwaslu selama ini sempat menuai kritik pedas dari berbagai kalangan agar panwaslu ditiadakan saja, karena keberadaannya dianggap mubazir dan hanya menhabiskan dana secara sia-sia. Demkian disampaikan Sanggam M Tambunan SH selaku prsktisi hukum di Sibolga-Tapteng, Senin (16/6) saat dijumpai METRO di ruang kerjanya.

            Dikatakannya, selama ini kita masih berpengharapan terciptanya Demokrasi yang berkualitas, maka Panwaslu mutlak diperlukan, hanya saja yang menjadi permasalahan selama ini adalah peraturan yang mengatur tugas dan kewenangan Panwaslu oleh pembuat peraturan itu masih lebih dominan mempertahankan kepentingan politik pembuat peraturan itu sendiri.

            Di sisi lain, rekrutmen dan penetapan enam orang calon anggota Panwaslu melalui pemeriksaan berkas dan mengikuti ujian tertulis tidak dilakukan secara transparan, karena hasil penilaian berdasarkan peringkat oleh tim seleksi KPUD tidak dipublikasikan kepada masyarakat, sehingga hasil penetapan anggota Panwaslu disinyalir masih dikotori oleh kepentingan kelompok penguasa, apakah itu di eksekutif, penguasa di KPUD bahkan penguasa di legislative.

            “Jika mempelajari materi tugas Panwaslu, maka orang yang mampu menjalankan tugas tersebut, adalah minimal orang yang memiliki pemahaman yang benar tentang hukum tata Negara Indonesia dan tata hukum Indonesia, mengerti hukum acara pidana Indonesia. Namun, kenyataannya justru orang-orang yang tidak mengerti hukum yang terpilih,” ujarnya.

            Selain kemampuan dibidang penegakan hukum, calon anggota Panwaslu harus mampu bekerja penuh waktu serta tidak terikat oleh pekerjaan lain seperti status PNS atau pegawai BUMD. Untuk legalitas seorang calon anggota Panwaslu bekerja penuh waktu harus dibuktikan melalui surat izin dari pimpinan dalam hal ini Walikota/ Bupati.

            “Jangan ada anggapan bahwa jabatan Panwaslu sebegai pekerja sampingan, karena undang-undang no 22 tahun 2007 tentang penyelenggaraan Pemilu sudah secara tegas menyatakan bahwa anggota Panwaslu harus siap bekerja penuh waktu,” tegasnya.

            Selanjutnya Praktisi hukum ini mengharapkan jangan lagi terjadi seorang PNS dan staf BUMD terpilih menjadi anggota Panwaslu, padahal dalam prakteknya orang tersebut, tidak memiliki waktu untuk melaksanakan tugas tersebut. Secara logika, yang memiliki jabatan dipemerintahan saja dilarang menjadi anggota Panwaslu apalagi hanya seorang staf yang setiap saat harus bersedia menerima perintah atasannya.

            “Kedepan, permasalahan Panwaslu akan semakin dilematis jika tidak didukung anggota yang memiliki SDM dibidang hukum, karena unsure anggota Panwaslu dari kepolisian dan kejaksaan telah ditiadakan,” jelasnya. (mag-2)

Kategori: Berita Sibolga

Pengalokasian Dana Sebesar Rp610 Juta Untuk Pembangunan Kantor Polisi dan Kantor Kajari Diduga Tidak Punya Payung Hukum

19 Juni 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Pengalokasian Dana Sebesar Rp610 Juta Untuk Pembangunan Kantor Polisi dan Kantor Kajari Diduga Tidak Punya Payung Hukum

SIBOLGA-METRO

            Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diminta untuk segera melakukan pemeriksaan terhadap Panitia Anggaran Eksekutif Pemko Sibolga dan Panitia Anggaran Legislatif DPRD kota Sibolga untuk pengalokasian dana sebesar Rp610.000.000, tahun anggaran 2004, diperuntukkan pembangunan Kantor Polisi Sektor (Polsek) kota Sibolga dan untuk Rehabilitasi Kantor Kejaksaan Negeri (Kajari) Sibolga.

            Menurut Ketua LSM TUMPAS Propinsi Sumatera Utara Martani Sikumbang, Kamis (19/6) kepada METRO di Sibolga, sesuai lembaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) kota Sibolga tahun anggaran 2004 lalu, yang ditandatangi oleh Drs Sahat Pinorsinta Panggabean MM selaku Walikota Sibolga, dana yang dianggarkan untuk Kantor Vertikal tersebut sebesar Rp610.000.000, yakni, untuk biaya rehabilitasi Perkantoran Kejaksaan Negeri Sibolga sebesar Rp400.000.000, dan untuk biaya pembangunan Kantor Polsek Sibolga sebesar Rp210.000.000.

“Kita melihat dan membaca dari penjabaran pada Undang-Undang Republik Indonesia (UU-RI) dan Peraturan Pemerintah-RI (PP-RI) maupun Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia (Permendagri), Pemerintah Daerah (Pemda) setempat yang memberian bantuan kepada Instansi Vertikal tidak dilengkapi dengan Payung Hukum, pemberian bantuan tersebut hanya berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) hasil godokan Legislatif dan Eksekutif melalui Sidang Paripurna DPRD setempat, jadi menurut hemat kita pemberian bantuan itu kepada pihak Polisi dan Kejaksaan hanya cukup persetujuan daerah saja,” Ujar Martani Sikumbang.

Menurut Ketua LSM Tumpas Propinsi Sumut itu, Walikota/Wakil Walikota, dan Sekretaris Daerah selaku Ketua Panitia Anggaran Eksekutif dan Panggar DPRD yang terlibat didalam pengesahan tersebut harus diperiksa pihak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), sebab peruntukan dana tersebut sudah tidak sewajarnya lagi, karena kedua Lembaga yang menerima bantuan dana itu adalah Lembaga Vertikal yang jelasnya bukan dibawah naungan Pemko Sibolga yang sudah memiliki anggaran tersendiri.

“Saya menduga dengan diberikanya bantuan tersebut, Pemko Sibolga sepertinya berharap agar  kasus–kasus dugaan penyimpangan (Korupsi,red) yang terjadi dilingkungan Pemko Sibolga dapat diredam atau kasus yang sudah ada dapat di Cooling Downkan (Petieskan),” kata Martani seraya mengharapkan agar  KPK turun untuk menindak lanjuti kasus yang sedang terjadi saat ini di Pemko Sibolga seperti dugaan penyimpangan yang berindikasi korupsi pada pelaksanaan sejumlah anggaran di Pemko Sibolga.

Sementara itu, Kepala bagian (Kabag) Keuangan Pemko Sibolga Samsamaludin SE, Kamis (19/6) yang dikonfirmasi METRO seputar bantuan yang diduga tidak meliki payung hukum tersebut menyebutkan, pada tahun anggaran 2004 lalu, tidak ada larangannya. “Memang pada tahun 2004 belum ada larangannya, tetapi pada tahun 2007, larangan itu baru muncul, dan payung hukumnya adalah Peraturan daerah (Perda) nomor 1 tahun 2004,” jelasnya.

Sekertaris daerah (Sekda) kota Sibolga Drs H Dahwir Nasution yang dikonfirmasi METRO sebelum acara pelantikan eselon II di jajaran Pemko Sibolga, Kamis (19/6) mengakui bahwa dia sudah pernah diperiksa di Kejatisu dalam hal itu, namun waktu itu dia belum menjabat sebagai Sekretaris daerah.

”Waktu itu saya masih sebagai anggota panggar Eksekutif, dan Sekretaris daerah waktu itu adalah Pak H Afifi Lubis SH yang saat ini menjabat sebagai Wakil Walikota Sibolga,” Ujarnya.

Ditempat terpisah, Mantan Anggota DPRD kota Sibolga produk tahun 2004 lalu, Abdul Rahman Nasution turut menanggapi permasalahan dana pengalokasian dana tersebut.

“Bukan peraturan yang perlu dipertanyakan dalam kasus tersebut, yang perlu dipertanyakan dalam kasus ini adalah LISENSI dari dana itu sendiri,” katanya. (mag-2)

Kategori: Berita Sibolga

Pemasangan Tiang Listrik Terbengkalai di 4 Desa

19 Juni 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Pemasangan Tiang Listrik Terbengkalai di 4 Desa

Warga Tuding Oknum PLN Curi Kabel Yang Tumbang

TAPTENG-METRO

Kabel listrik yang sempat dipasang oleh pihak PLN sebelas tahun yang lalu yakni pada tahun 1997 silam, di empat Desa di kabupaten tapanuli tengah, raib entah kemana. Dimana puluhan tiang listrik tinggal terbengkalai tanpa adanya perhatian. Dan ironisnya, masyarakat mengaku melihat sendiri kabel listrik tersebut, diambil oleh orang yang tak dikenal dengan menggunakan peralatan PLN, seperti mobil Dinas PLN dan baju dinas PLN.

Dari Empat Desa yakni Desa Sait Nihuta kalangan, Desa Saut Manggita, Desa Sigiring giring Desa Aek Bontar, yang tidak dialiri arus listrik ternyata menyimpan banyak masalah mengenai pemasangan arus listrik milik PLN yang telah putus ditengah jalan sudah, yang dikerjakan sejak sebelas tahun yang lalu, hingga saat ini, hanya meninggalkan beberapa tiang-tiang tua yang tidak bisa terpakai lagi.

            Menurut informasi yang dihimpun METRO dari sejumlah warga Sigiringgiring Kecamatan tukka kabupaten Tapteng menyatakan, tiang dan kabel yang dahulunya lengkap terpasang telah raib entah kemana. Hilangnya kabel dan beberapa alat-alat listrik lainnya tidak bisa dipastikan oleh masyarakat siapa yang mengambil kabel tersebut. Akan tetapi, besar dugaan masyarakat oknum PLN sendirilah yang telah menarik kembali kabel tersebut.

            Hodjon panggabean salah seorang masyrakat mengatakan diduga kuat yang melakukan pencurian adalah oknum PLN, karena sempat mengaku hanya melakukan perbaikan, dengan menggunakan seragam dinas dan mobil berlogokan PLN dan secara paksa memutus kabel listrik.

            “Pada saat kabel listrik dibuka pada tahun 1997 lalu, kami sempat merasa curiga kenapa kabel yang baru saja selesai dipasang sepekan, lalu dibuka kembali oleh orang yang memakai baju dinas PLN , padahal pada waktu itu hari sudah mulai gelap,” ujarnya sembari mengaku tidak ingat lagi tanggal dan bulan kejadian tersebut.

             Hal senada juga dikatakan S Sitompul salah seorang oknum kepala Desa di salah satu Desa dari empat desa mengatakan, setelah kejadian itu selama sebelas tahun, masyrakat yang berada di empat desa, selalu menunggu akan datangnya pemasangan kembali aliran listrik kedesa tersebut, dan pernah mencoba mendatangi pihak PLN, namun tidak ada tanggapan, “Sampai saat ini masyarakat masih mengharapkan pihak PLN memasukan aliran listrik ke daerah mereka, karena saat ini masyarakat hanya memanfaatkan genset yang ada sebagai alat pembangkit listrik yang dapat bertahan hanya beberapa jam,” ujarnya.

            Sementara itu, pihak PLN melalui kepala PLN Cabang Sibolga Ir Pintor Rumapea membantah, kabel listrik tersebut dicuri oleh oknum PLN, dan menyatakan bukan oknum mereka yang melakukan pembukaan kabel listrik itu, hingga akhirnya masyarakat menganggap kabel tersebut dicuri pihak PLN.

            “Akan kita selidiki kebenarannya, karena tidak mungkin pegawai PLN mencuri sendiri kabelnya, tetapi kita tetap akan melakukan penyelidikan. Dan kedepannya kita akan melakukan Survey apakah akses jalan di daerah tersebut mendukung dan selesai survey akan kita ajukan ke PLN Wilayah Sumut dan memasang listrik di Desa terpencil sesuai dengan cita-cita PLN 75-100 dimana apabila Indonesia berumur 75 tahun, maka PLN akan mengakses listrik di daerah terpencil,” ujarnya sembari menambahkan semuanya itu harus didukung semua instansi dan masyarakat.

            Dikatakannya, saat pemasangan instalasi listrik di empat Desa tersebut, terjadi longsor yang menyebabkan tumbangnya beberapa tiang listrik dan masyarakat setempat tidak ada melaporkan kejadian tersebut kepada pihak PLN, juga setelah sempat dibangun dan ditunggu sampai tiga bulan namun tidak ada masyarakat yang menjadi pelanggan.

Saat METRO menanyakan mengapa pihak PLN tidak melaporkan kepada pihak yang berwajin terhadap pencurian kabel yang dilakukan pihak yang tidak bertanggung jawab, sehingga sampai saat ini peralatan milik pln tersebut sisa-sisa?.

            Ir Pintor Rumapea manjawab, “tidak perlu diusut, karena dengan melaporkan ke pihak yang berwajib belum tentu dapat meyelesaikan permasalahan, tetapi permasalahan utamanya sudah dibuat akses listrik tapi masyarakat tidak mau menyambung. Harapan kami kedepan masyrakat merespon positif pembangunan pasilitas listrik,” harapnya. (mag-2)

 

 

Kategori: Berita Sibolga

Pengedar dan Pemakai Sabu-sabu Diciduk

19 Juni 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Satu Pengedar dan Dua Pemakai Sabu-sabu Diringkus Polresta Sibolga

SIBOLGA-METRO

            Kesatuan Polisi Resort Kota (Polresta) Sibolga, kembali berhasil meringkus 3 orang tersangka kasus sabu-sabu yakni AH (27) Nelayan, warga jalan Murai atas, HBJ (38) Nelayan, warga jalan Elang belakang dan AS (21) Nelayan, warga jalan Kenari kelurahan Aek Masni kecamatan Sibolga Selatan di sebuah rumah yang berada di Jalan Mojopahit Sibolga, Rabu (18/6) siang sekira pukul 12.30WIB, satu dari ketiga tersangka yakni AH merupakan kurir, ditangkap di jalan Perkutut Sibolga Rabu (18/6) sekitar pukul 11.00WIB.

            Setelah penangkapan AH dan dilakukan pengembangan oleh pihak Polresta Sibolga, lalu dilakukan penggrebekan di sebuah rumah yang berada di jalan Mojopahit Sibolga, sehingga membuat geger warga jalan Mojopahit dan memadati halaman rumah yang sedang dilakukan penggrebekan.

            Saat dilakukan penggrebekan di rumah tersebut, tampak Kasat Reskrim Polresta Sibolga AKP Aswin Noor Nasution SH, Kapolsek Sibolga Selatan Iptu D Habeahan, Lurah Aek Manis Margreit Simatupang beserta kepling, dan personil rekrim Polresta Sibolga.     

Kapolresta Sibolga AKBP M Marbun BA, Kasat Reskrim Polresta Sibolga AKP Aswin Noor Nasution SH didampingi Kapolsek Sibolga Selatan Iptu D Habeahan kepada METRO, di ruang kerjanya Rabu (18/6) membenarkan, adanya penangkapan tiga orang tersangka pengedar dan pemakai sabu-sabu di jalan Mojopahit kelurahan Aek Manis Sibolga Selatan.

            “Berdasarkan informasi dari masyarakat bahwa ada satu orang yang sedang membawa sabu-sabu untuk di edarkan di Perkutut Sibolga. Setelah tersangka AH ditangkap dan digeladah ditemukan satu paket kecil sabu-sabu dari kantong celananya, dan tersangka mengaku memperoleh sabu-sabu dari seseorang yang tinggal di sebuah rumah jalan Mojopahit Sibolga, kemudian dilakukan pengembangan berupa penggrebekan di rumah yang dimaksud, ditangkap dua orang tersangka lainnya yang diduga baru selesai menggunakan sabu-sabu dan diperoleh satu bungkus paket kecil sabu-sabu serta dua unit alat penghisap berupa bong,” jelas D Habeahan sembari menambahkan tersangka merupakan targetnya.

            Kapolsek Sibolga Selatan menuturkan, saat hendak melakukan penggrebekan di rumah yang diduga bandar sabu-sabu tersebut, sempat mengalami kendala, karena sulit untuk masuk ke dalam rumah, sehingga harus melibatkan lurah Aek Manis dan kepling. Karena waktu untuk masuk ke dalam rumah cukup lama, diduga dua orang tersangka sempat melarikan diri dari belakang dan barang bukti sempat dibuang, sehingga yang didapat di dalam rumah selain dua tersangka dan satu paket kecil sabu-sabu.

            “Adapun barang bukti yang ditemukan yakni 1 paket kecil sabu-sabu diperoleh dari tersangka AH yang bertindak sebagai pengedar dan satu paket lainnya didapat dari dalam kamar rumah yang digrebek di jalan Mojopahit Sibolga bersama dua unit alat penghisap berupa bong, sehingga barang bukti 2 paket kecil sabu-sabu,” jelasnya.

            Masih dikatakan D Habeahan, Untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, katiga tersangka dapat dijerat pasal 59 huruf (e) UU no 5 tahun 1997 tentang Fisikotropika dengan ancaman hukuman kurungan maksimal 20 tahun penjara. Dan untuk penyelidikan lebih lanjut, katiga tersangka ditahan di Mapolsek Sibolga Selatan.

            AH (27) seorang tersangka, yang bertindak sebagai pengedar kepada METRO mengakui selain berpropesi sebagai nelayan juga mengedarkan sabu-sabu. “Sabu-sabu tersebut, saya peroleh dari Bandar kami yang tinggal di jalan Mojopahit Sibolga, dan saya baru keluar dari rumah tersebut, kira-kira beberapa menit dan langsung ditangkap pihak kepolisian. Dan setahu saya saat meninggal rumah tersebut, mereka sedang menghisap sabu-sabu bersama dua orang yang berhasil kabur,” ujarnya.

            Sementara itu, dua tersangka lainnya yakni HBJ dan AS mengatakan tidak ada memakai barang haram tersebut, dan mengaku tidak tahu ke rumah tersebut, hanya sekedar bertamu dan berkumpul bersama teman-teman mereka.

“Saya memang setiap harinya datang ke rumah tersebut, tapi bukan untuk memakai, tetapi hany berkumpul dan sekedar main kartu, dan saat polisi melakukan penangkapan saya tidak tahu apa salah saya,” ujar HBJ.

            Hal senada juga dikatakan As dan tetap mengaku tidak ikut mengkonsumsi barang tersebut. “Saya datang ke rumah itu untuk minta uang bang, karena sudah biasa memang saya ke sana, karena pemilik rumah itu merupakan sudara saya, dan sejak bapak saya belum meninggal kami juga sering datanf ke rumah tersebut,” tuturnya. (mag-2)

Kategori: Berita Sibolga

Warga Simare-mare Idap Gizi buruk

19 Juni 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Warga Simare-mare Idap Gizi buruk

SIBOLGA-METRO

            Seorang pasien gizi buruk akibat Diare Eliveri Jutafir Halawa (2,5 tahun) anak dari pasangan Tesekhi Halawa (47) yang berpropesi sebagi penarik becak dayung dan istrinya Adila br Lase (36) yang berpropesi sebagai kuli bangunan warga jalan Kenanga atas Kelurahan Simare-mare kecamatan Sibolga Utara saat ini sedang dirawat intensif Mawar anak RSU FL Tobing Sibolga Selasa (17/6) sekira pukul 15.00WIB.

Tesekhi Halawa (47) ayah Eliveri, saat dijumpai METRO di RSU FL Tobing Sibolga Selas (17/6), menerangkan, bahwa anaknya baru dirawat intensif di RSU FL Tobing Sibolga Selas (17/6) sekira pukul 15.00WIB, yang menurut informasu yang diterima mereka anaknya mengalami gizi buruk akibat penyakit Diare yang berkepanjangan.

“Informasi yang kami terima dari dokter yang menangani bahwa anak kami (Eliveri) selain mengalami gizi buruk akibat mengalami penyakit mencret yang. Everi mengalami mencret sejak 3 bulan yang lalu, saat Eliveri masih berumur 2 tahun 3 bulan dan awalnya Cuma mencret biasa, tapi sampai saat ini tidak kunjung sembuh hingga badan semakin kurus,” jelasnya.

“Saat masih bayi, Eliveri lahir dengan kondisi normal sama seperti bayi lainnya. Namun  saat beranjak diusia 2 tahun 3 bulan, anak saya (Eliveri) sering mencret. Dan kami sudah membawa berobat kemana-mana, dari berobat ke Puskesmas, Dokter umum, dan berobat kampung, namun mencret yang dialaminya tidak kunjung berhenti, hingga badannya kurus hingga tampak kultit seperti menyelimuti tulangnya,” ujar Adila Lase selaku ibu Eliveri.

Dikatakannya, dengan kondisi perekonomian mereka yang pas–pasan dengan mengharap penghasilan suaminya sebagai penarik becak, yang dibantu istrinya yang kadang bekerja sebagai kuli bangunan, masih membuat mereka kewalahan untuk membiyai anak mereka yang sakit, dan berharap ada dermawan yang mau membantu untuk perobatan, hingga anaknya dapat sembuh.

Menurut amatan METRO di ruang Mawar anak RSU FL Tobing Sibolga, untuk menyuplai makanan berupa susu kepada Eliveri bocah yang mengalami gizi buruk, tampak para perawat memberikannya susu dengan cara menggunakan selang yang disambungkan melalui hidung pasien, karena Eliveri tidak sanggup lagi menelan susu dari mulut.

            Sementara itu, Dr LP Saing SpA selaku Dirut RSU FL Tobing Sibolga, ketika dikonfirmasi Selasa (17/6) sore sekira pukul 17.00WIb di RSU FL Tobing Sibolga kepada METRO mengatakan, Pasien yang mengidap penyakit gizi buruk tersebut, karena awalnya si pasien mengidap penyakit Diare, sehingga membuat si bayi kekurangan gizi dan menjadi kurus.

“Pada waktu masuk berat si bayi 6,4 Kilogram, dan setelah kita periksa ternyata di si bayi mengalami kekurangan gizi dan menjadi kurus, akibat mengidap penyakit Diare Kronis yakni mengalami mencret yang berkelanjutan. Dan semua biaya perobatannya pasien di RSU FL Tobing Sibolga kami gratiskan seratus persen, mengingat perekonomian mereka yang kurang mampu dan juga mereka mempunyai kartu Jaminan kesehatan Masyarakat (Jamkesmas),” ujarnya. (Mag-2)

 

 

 

           

 

Kategori: Berita Sibolga