Seputar Abang Tikam Leher Adik Hingga Tewas
Keluarga: Korban Ada Penyakit Dan Sering Mengamuk
TAPTENG-METRO
Yenima br Zalukhu (16) korban penusukan oleh abang kandung sendiri dinilai keluarga dan tetangga sebagai seorang pendiam, namun pada saat-saat tertentu mau mendadak pemarah dan memukuli adik-adiknya dan tidak terkecuali kedua orang tuanya yang sudah cukup tua.
Sadarlima br Zalukhu (14) selaku adik korban dan juga lawannya saat bertengkar dan berbuntut kematian tersebut, kepada METRO saat dijumpai di kediamannya menuturkan kejadian sebenarnya yang terjadi.
“Awalnya sebelum kejadian, pada Selasa (29/7) siang sekira pukul 12.00WIB, kak yeni (korban) pulang dari salah satu warung dekat rumah yang sedang makan buah salak, sesampainya di rumah kak yeni (korban) Pingsan. Melihat dia pingsan saya memeluknya, dan menidurkannya di ruang tamu rumah,” tuturnya.
Lebih lanjut dikatakannya, “Hanya beberap menit kak Yeni siuman dan saya berusaha menolongnya untuk duduk, namun dia berkata ‘jangan tolong aku, awas kau ada dua orang yang datang ke rumah kita’, saat saya menoleh kea rah pintu rumah yang ada di belakangku, ternyata tidak ada orang yang datang. Lalu kak Yeni menyuruh saya mengambilkan air minum, dan saat saya mau mengambil air minum, tiba-tiba kak yeni datang dari belakang dan memukul saya berkali-kali dengan hanger (gantungan baju),” jelasnya.
Dikatakannya, mendengar ada keributan dan suara pukulan terhadap dirinya, abangnya bernama FNZ kebetulan ada di rumah tepatnya di dalam kamar, yang jarang pulang ke rumah, karena bekerja sebagai nelayan, keluar dari dalam kamar dan mencoba melerai korban yang memukulinya.
“Saat abang coba melerai, kak Yeni malah memukulnya hingga hanger yang digunakan patah, lalu abang (tersangka) memukul dan menunjang kak yeni (korban). Sehingga terjadi pertengkaran dan Yeni mengambil sapu lalu, kembali memukul FNZ. Karena Geram dan dongkol, FNZ mengambil pisau panjang dan berkata kepada Yeni ‘kau sudah kulerai jangan memukul Sadarlima, malah memukulku, ku potong nanti lehermu’,” ujarnya Sadarlima menirukan perkataan abangnya saat terjadi pertengkaran dengan korban.
Dikatakannya, sesaat setelah abangnya mengancam, tiba-tiba saja Yenima (korban) mendorongkan tubuhnya ke arah pisau yang sedang dipegang oleh abangnya, sehingga lehernya korban tertusuk pisau yang dipegang abangnya. Setelah tertusuk korban sempat lari keluar, dan terjatuh di depan rumah. Selanjutnya tersangka minta tolong kepada warga untuk dipinjamkan sepedamotor membawa adiknya yang tertusuk pisau ke RSUD Pandan, dibantu Sadarlima.
“Saat di rumah, kak Yeni masih hidup, mungkin saat diperjalanan dia sudah tidak ada, karena sesampainya di rumah sakit kami menyerahkannya kepada perawat dan langsung pulang untuk mengambil uang perobatannya,” katanya.
Dijelaskannya, tingkah laku korban yang sering marah-marah tanpa alasan sudah khususnya pada siang hari, sudah berlangsung selama dua tahun belakangan ini, namun mereka tidak mengetahui penyebabnya. Dan tersangka yang juga merupakan abang korban, tidak mengetahui penyakit korban yang sering marah dan memukuli mereka dan juga kedua orang tuanya.
Orang tua korban sangat terpukul
Dadi Zato Zalukhu (60) selaku ayah korban dan tersangka kepada METRO mengaku sangat terpukul dengan kejadian tersebut, dan tidak menyangka kejadian yang tak terduga tersebut, membuatnya kehilangan dua anaknya.
“Saya mengalami kehilangan dua orang anak, dimana yang satunya anak saya yang perempuan Yenima tewas tertusuk pisau oleh abangnya tanpa sengaja. Dan anak saya FNZ yang tidak sengaja menusuk leher adiknya terpaksa menginap dipenjara, jadi saya merasa serba salah,” ujar Dadi Zato Zalukhu yang diaminkan istrinya Yasiria Hia (40).
Secara batin dia berharap, anaknya yang tidak sengaja menusuk leher adiknya sendiri dengan sebilah pisau, untuk segera dibebaskan dari semua hukuman dan kembali berkumpul bersama mereka keluarganya.
Tindak tanduk korban selama satu minggu belakangan sebagai pertanda
Dadi Zato Zalukhu didampingi istrinya dan Sadarlima mengatakan, satu minggu sebelum kejadian penusukan leher korban oleh abangnya sendiri, tindak tanduk atau tingkah laku korban sangat berbeda dari hari-hari biasanya.
“Satu minggu sebelum kejadian ini kadang-kadang korban sering berbicara ngelantur dan berbicara diluar kesadarannya, dan hal yang sering dibicarakannya, dia selalu berbicara dan meminta ‘apabila aku nanti mati atau nikah, tolong aku di pakaiani dengan baju tidur baru saya ini,” ujar ayah korban menirukan perkataan korban sebelum tewas tertusuk pisau.
Namun, saat korban berbicara seperti itu, orang tua korban tidak pernah tepikir, kejadian ini akan terjadi dan tidak menyangka kematian korban yang mereka kenal dulunya pendiam dan ceriah sebelum mengidap penyakit seperti orang stres, akan berakhir ditangan abang kanungnya sendiri, karena unsure ketidak sengajaan.
Korban dan tersangka dikenal sebagai tetangga sebagai sosok yang pendiam
Sementara itu, Herdi Gea (35) salah seorang tetangga korbn yang tinggal berjarak dua rumah dari rumah korban kepada METRO mengatakan, korban dan abangnya selaku tersangka pelaku penusukan leher adiknya hingga tewas merupakan seorang gadis dan pemuda yang baik dan tidak pernah menimbulkan kerusuhan di daerah tersebut.
“Yenima (korban) seorang gadi yang sangat pendian dan jarang keluar rumah, dan kadang berkumpul bersama tetangga yang tinggal disini. Dan FNZ juga saya kenal seorang yang pendiam dan setahu saya tidak pernah membuat keributan di kampung ini meskipun dia jarang pulang ke rumah, dan setahu saya dia sangat saying dengan adik-adiknya,” ujarnya.
Sekedar mengingatkan, karena kesal Yenima br Zalukhu (16), yang tidak mau dilerai saat bertengkar dengan adiknya Sadarlima br Zalukhu (14), Faigi Naso Zalukhu kilaf mata mengambil sebilah pisau dan menusuk leher adik kandungnya Yenima br Zalukhu sebanyak dua kali hingga tewas, Selasa (29/7) sekira pukul 13.30WIB, di Dusun Lima Desa Hajoran kecamatan Pandan.
Informasi yang dihimpun METRO, terungkapnya kasus pembunuhan tersebut, berawal dari pengaduan seorang perawat RSUD Pandan ke Mapolsek Pandan yang mengatakan ada seorang mayat perempuan yang diantar oleh seorang perempuan dan laki-laki.
Mendengar informasi tersebut, pihak Polsek Pandan mencek mayat tersebut, dan saat dicari yang mengantar mayat namun sudah hilang. Selanjutnya pihak kepolisian melakukan pencarian, setengah dilakukan pencarian, akhirnya pelaku yang masih merupakan abang kandung korban bersama adiknya di temukan saat hendak menuju kediamannya.
Kapolres Tapteng AKBP Drs Reynhard Saut Poltak Silitonga SH, melalui Kapolsek Pandan AKP Kamdani SAg, saat dikonfirmasi METRO di Mapolsek Pandan membenarkan adanya penusukan leher seorang gadis yang dilakukan oleh abang kandung sendiri.
“Kronologisnya berawal dari pengaduan seorang perawat RSUD Pandan, dan setelah kita cek ternyata pengantar mayat menurut informasi yakni seorang perempuan dan laki-laki sudah lari. Selanjutnya kita melakukan pengejaran dan berselang setengah jam diantarkannya mayat ke RSUD Pandan, akhirnya sekira pukul 14.00WIB, pelaku berhasil kita temukan bersama adiknya yang ikut mengantar ke RSUD Panda, di rumah mereka di Dusun lima Desa Hajoran kecamatan Pandan dan selanjutnya kita boyong ke Mapolsek Pandan,” jelasnya.
Dijelaskannya, penusukan leher korban berawal dari korban menyuruh adiknya mengambil air minum, kerana tidak mau korban langsung memukul adiknya sehingga terjadi pertengkaran. Dan pada saat itu, pelaku sedang tidur di dalam kamar, karena mendengar rebut pelaku bangun dan mencoba melerai pertengkaran tersebut, namun korban masih tetap memukul adiknya bahkan memukul pelaku.
“Karena tidak mau dilerai, sehingga membuat pelaku geram dan dongkol, selanjutnya mengambil parang. Saat memegang parang, korban masih tetap memukul pelaku, lalu pelaku menusuk leher korban sebanyak dua kali hingga tewas,” ujarnya.
Masih dikatakan Kamdani, akibat perbuatan pelaku yang menghilangkan nyawa adiknya sendiri dengan cara menusuk lehernya sebanyak dua kali. Pelaku dikenakan pasal 338 KUHPidana tentang penganiayaan yang menyebabkan kematian, dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara. (Afwan Nasution)