Durian Buah Raja Nan Penuh Nostalgia
AFWAN-SIBOLGA
Tanyalah perantau nun jauh di negri orang, apa yang kalian rindukan saat ini di kampung halaman?. Sebagian besar akan menjawab buah Durian. Amboi ada apakah gerangan, hingga buah besar berduri dan berbau tajam yang khas ini menjadi lamunan kaum perantau.
Kalau kita bersandar pada harganya yang relatif mahal di rantau sana, agaknya bukan itu yang menjadi penyebab, karena saat ini sudah banyak buah durian murah Thailand menyerbu kota-kota besar baik itu di Jakarta, Bandung, ataupun Surabaya.
Yang menjadi lamunan ternyata buah asli lokal yang baru jatuh dari pohon, bukan bauh lokal atau import yang matang dikarbit atau diperam jauh hari sebelumnya. Buah durian segar jatuh dari pohon itulah yang menjadi pemicu rindu pulang menikmati durian. Banyak Nostalgia tersimpan diacara menunggu buah jatuh atau manare durian ini d relung hati perantau baik yang jenaka ataupun yang nestapa.
Musim durian adalah musim dimana anak-anak rantau membayangkan lamunan tentang kampung halaman, karena ada banyak bayangan masa lampau terkenang, ingat ibunda tersayang, ingat ayah handa, ingat orang yang dicintai dan mencintai, dan ingat dusanak di kampung nan jauh di mato.
Orang pesisir Tapanuli Tengah (Tapteng) termasuk kreatif dalam mengolah buah durian ini, banyak masakan khas berbahan durian yang tidak ada ditemukan di daerah lain. Buah durian bukan hanya sekedar dimakan begitu saja, tetapi juga diolah dan menghasilkan makanan yang sangat enak bahkan dihidangkan pada acara-acara tertentu saja.
Nasi tue misalnya adalah masakan para raja dahulunya, hanya disuguhkan pada acara-acara tertentu saja menyambut tamu agung, menurunkan ampulei (pengantin laki-laki) dai rumah orang tuanya menuju ruamah anak daro (mempelai wanita). Kenduri yang kebetulan masa durian diadakan pasti kurang mantap kalau nasi tue tidak dihidangkan.
Nasi tuei adalah penganan yang terbuat dari ketan diberi kuah santan bercampur durian, dia diolah sedemikian rupa hingga memancarkan aroma wangi yang membuat selera orang yang menciumnya.
Itulah sebabnya mengapa perantau menerawangi ingatannya bila mencium aroma nasi tuei ini dirantau sana, karena mungkin ingat saat dulu menikmati nasi tuei ini saat masih pengantin atau baru saja berhasil khatam mengaji.
Selain nasi tuei durian juga diolah menjadi masakan khas pesisir yang unik lainnya, yakni gulai jorok (pemabaca jangan bayangkan kata jorok sama dengan jorok betawi yang artinya kotor). Gulai jorok adalah gulai udang dicampur daging buah durian yang telah dipisahkan dari bijinya. Rasa gulai ini manis-manis pedas dengan rasa durian yang dominan, sebagai penyeimbang rasa biasanya diberi sedikit belimbing wuluh dan ditambahkan petai mengurai aroma durian yang keras. Disuguhkan bersama nasi hangat dan goreng ikan asin kering gulamo sungguh membuat kita lupa sudah berapa kali menambah.
Itak-itak makanan lain berbahan durian adalah salah satu jenis kue yang wajib dihidangkan saat manuju bulan (acara syukuran saat wanita mengandung pertama kali yang kandungannya sudah berusia tujuh bulanan). Kue ini berbahan dasar tepung beras, buah durian dan bare (biji padi yang disangrai diatas kuali panas, sehingga terkelupas kulitnya, karena mengembang seperti kapas), disuguhkan seperti telur, karena pembuatannya dengan cara dikepal-kepal.
Selain masakan diatas, buah durian juga sering dipadukan dengan penganan lainnya, seperti ketupat ketan, lemang, nasi lemak, atau ketan hangat yang disuguhkan pagi hari sebagai sarapan. Para anggota keluarga di rumah masing-masing kampung pesisir biasanya berkumpul semua menikmati makanan ini. Jadi wajarlah titik air mata kerinduan membuncah-buncah dipelupuk mata anak rantau, karena terbayang bagaimana ibunda tersayang menyuguhkan masakan ini dan protes adik-adik yang merasa bagiannya kurang banyak bersahut-sahutan.
Karena durian sudah begitu mengakar dan jadi buah yang mewarnai budaya penduduk pesisisr, di Sorkam acara manare menunggu durian jatuh adalah saat yang paling ditunggu-tunggu, walaupun letak pohon durian jauh di hutan, mereka tidak ada merasa takut mendatanginya bahkan malam hari yang seram sekalipun banyak anak-anak remaja berbekal senter mendatangi pohon tersebut.
Pulang manare, walaupun semalaman bergadang wajah mereka tidak kelihatan kuyu, mereka girang karena banyak membawa pulang buah berduri ini dengan cara memikul pakai galah berdua-dua.
Banyak cerita lucu seputar acara manare ini, seperti kena gorbas (suara durian jatuh yang dibuat secara iseng oleh orang lain), biasanya memukul semak-semak pakai kayu lalu menghentakkan kakinya ke tanah sehingga mirip durian jatuh dari pohon. Ada dua macam efek gorbas ini, salah satunya kecewa tidak menemukan buah jatuh yang dicari atau saat ditinggal mencari buah bohongan itu, begitu berbalik pulang durian yang sudah dapat terkumpul hilang raib dicuri situkang gorbas.
Hampir semua jenis durian diberi nama dan nama tersebut, mewakili bentuk dan isinya, seperti sijantung, Tapak Gajah, Telur Ayam, Periuk dan lainnya. Hanya dengan menyebut nama durian tersebut, langsung diketahui tebal tipis daging buahnya.
Di Sorkam durian diberika kelas-kelas tingkat kematangannya, dari mulai masih sangat muda sampai nyaris matang yang biasa disebut mancimun. Dimana mancimun adalah kesta terendah dimana daging buahnya masih bening dan berair, rasanya dingin persis mentimun.
Selain itu, juga ada Tangkual (mengkal) setingkat diatas mancimun, dimana daging buahnya mulai mengeras terasa gurih, tetapi belum begitu manis saat dimakan. Bijinya kalau dikuyah berlendir manis agak sepat, dan maaf kata kalau kita buang angin sehabis makan tangkual baunya minta ampun.
Juga ada Mandaging ayam yang daging buahnya mulai manis dan serat buahnya kalau dilepas persis seperti daging ayam. Selepas Mandaging Ayam disebut, Mancimpor (mungkin maksudnya rasanya mulai bercampur), diman daging buahnya mulai harum dan sedikit lunak. Sebenarnya pada rasa Mancimpor inilah rasa durian yang paling nikmat disantap mentah-mentah tanpa ada campuran lainnya, misalnya ketan.
Sehabis masa Mancimpor barulah durian sempurna masaknya dan bebas diperjual belikan tanpa perlu diperiksa kematangannya lagi, karena telah harum mewangi. Selamat menikmati durian yang saat ini sedang musim.
Sumber: Safriwal Marbun pengamat dan pecinta Durian