TAPTENG-PLTU Labuhan Angin terancam padam, karena jumlah batubara yang dibongkar sedikit sekali karena kerusakan alat pengangkut batubara (Stacker reclaimer). Kerusakan tersebut diperparah dengan tertahannya 3 alat berat serta bahan bakar minyak oleh masyarakat yang meminta ganti rugi tanah di jalan Poriaha menuju PLTU Labuhan Angin.
Demikian disampaikan Manager PLTU Labuhan Angin, Budi Mulyono saat dikonfirmasi METRO melalui selularya, Minggu (22/8), dan menjelaskan bahwa yang rusak adalah dua bearing yang ada pada alat pengakut batubara berupa Staker reclaimer yang berfungsi mengarahkan batubara dari ship unloader di kapal ke coal yard (Tembat penyimpanan batubara) dan mengambil batubara dari coal yard ke silo Boiler.
Dikatakan Budi Mulyono, bahwa sebagai upaya memasok bahan bakar Batubara ke Boiler agar menjaga PLTU tetap dapat menghasilkan daya sebesar 53 Megawatt dari Unit 1, sesuai permintaan system, pihaknya memiliki tiga cara, namun dua dari tiga cara tersebut sudah terkendala. Dimana unit 1 PLTU Labuhan Angin sudah mulai operasi sejak Minggu (8/8) lalu setelah menjalani perawatan selama 35 hari.
“Tiga cara memasukan batubara ke Boiler, pertama melalui conveyor dengan menggunakan Stacker reclaimer yang sekarang rusak akibat pecahnya rumah bearing, yang kedua kita mau menggunakan alat berat dengan mendatangkan alat berat dari Kota Medan, namun saat ini masih tertahan di jalan Poriaha menuju PLTU. Sehingga kita hanya memiliki satu cara lagi, yaitu memasukan batubara dari conveyor pendek dengan menggunakan truk, tapi sayang truknya cuma ada satu sehingga tidak begitu maksimal,” tuturnya.
Selain itu, lanjutnya, pihaknya juga berupaya mendatangkan komponen bearing yang mengalami kerusakana di Stacker reclaimer, karena ada dua bearing yang mengalami kerusakan.
“Satu bearing sudah ada dan pada saat bearing yang ada hendak dipasang, ternyata ada dua bearing yang rusak, sehingga kami memesan kembali ke Medan. Kalau tidak ada halangan, Senin (23/8) ini bearing yang dipesan sudah sampai dan mudah-mudahan dapat diperbaiki,” ujarnya seraya menyatakan kerusakan bearing di Stacker reclaimer sudah berlangsung hampir satu minggu.
Menurutnya, akibat kerusakan tersebut dan terkendelanya alat berat, pihaknya saat ini hanya mampu membongkar Batubara dengan truk seadanya, dimana biasanya sehari bisa membongkar 3.500 ton sekarang hanya 300 ton perhari.
“Kami dari PLTU sangat menyayangkan tindakan warga yang menahan tiga alat berat yang sengaja kita datangkan sebagai alternativ untuk membongkar batubara dan memasukan batubara ke Boiler. Namun, saat ini masih ada stok 50 ribu ton, tetapi dengan stok 50 ribu ton kalau dipakai terus, sementara penambahan batubara yang masuk tidak sebanding batubara maka PLTU akan terancam,” katanya.
Sebanyak 39.149 ton Batubara Terapung di Laut
Akibat kerusakan bearing di Stacker reclaimer yang dapat mengancam PLTU Labuhan Angin, juga membuat 39.149 ton bahan bakar Batubara yang baru dipasok terapung di laut akibat belum dapat dibongkar, karena kerusakan yang terjadi.
“Saat ini bahan bakar batubara yang terapung, karena belum dapat dibongkar, akibat kerusakan bearing di Stacker Reclaimer, sebanyak 39.149 ton yang terdiri dari tongkang yang berasal dari PT Kasih KLN 3002 sebanyak 4.000ton, PT Kasih KLN 3003 sebanyak 2.000 ton. Kemudin handymax atau kapal besar dari PT Kasih MV. First Kasih sebanyak 20.000 ton serta tongkang dari PT Titan Sentosa Jaya sebanyak 4.995 ton dan PT Titan Polaris sebanyak 8.154 ton,” ungkapnya.
Ketika, ditanya apakah sudah ada upaya untuk melakukan negosiasi dengan masyarakat yang menuntut ganti rugi tanah, agar truk pengangkut alat berat dan truk pengangkut bahan bakar minyak (BBM) untuk PLTU bisa berjalan lancar?.
Budi Mulyono menjawab bahwa saat ini Ia masih terpokus ke masalah teknik akibat rusaknya alat pengangkut batubara atau Stacker reclaimer, sehingga pembongkaran Batubara dari kapal dan tongkang pembawa Batubara dapat berjalan dengan baik.
“Saya masih konsen untuk masalah teknik ini, jadi saya memisahkan urusan yang eksternal dengan masalah tekni. Dan mungkin, Senin (23/8) ini, Asisten saya akan menjumpai Kapolres agar tertahannya truk-truk yang mengangkut keperluan PLTU Labuhan Angin dapat berjalan dengan baik, karena saya disini murni bidang teknik, makanya saya kerjakan teknik dulu,” akunya.
Ditanya mengenai persiapan menjelang Lebaran Idul Fitri 1431 Hijriyah, Manger PLTU Labuhan Angin ini menjawab, bahwa pada saat Lebaran biasanya perminataan daya akan menurun, seiring dengan banyaknya pabrik-pabrik dan kantor-kantor yang tutup.
“Biasa, pada Lebaran PLTU dan pembangkit-pembangkit hanya harus stand bay dan selalu siap dengan tidak boleh ada gangguan, tetapi perminataan akan daya dari sistem rendah, karena industri mati dan kantor-kantor tutup semua. Kadang kita harus menghasilkan daya rendah bisa 30 MW karena tidak ada yang menggunakan,” ucapnya.
Dan untuk unit 2 PLTU, sejak Senin (23/8) hari ini resmi dinyatakan perawatan, meskipun sebelumnya sudah padam Rabu (18/8) lalu, karena permintaan dari ahli dari Cina yang menyatakan sudah waktunya unit 2 dipelihara, karena pada dasarnya April sudah masuk scedule pemeliharaan ditambah mereka mau pulang.
“Sesuai scedule memang pemeliharaan unit 2 seharusnya dilaksanakan bulan April, namun karena permintaan, Senin (23/8) baru resmi masuk scedule pemeliharaan dan biasanya 60 hari, tetapi pelaksanaan bisa diatur agar dapat selesai lebih cepat,” tandasnya. (afn)
